PENINGGALAN KERAJAAN MAJAPAHIT PART 3
7. Candi Minak Jinggo
Bangunan yang terletak didekat “kolam segaran” ini hanya
tersisa reruntuhnya saja, memiliki bentuk unik berupa kombinasi bahan andesit
dibagian luar dan baru di bagian dalam. Di Candi ini ditemukan arca unik
berwujud ukiran makhluk ajaib yang didentifikasi sebagai Qillin, makhluk ajaib
dalam mitologi China. Adanya penemuan arca ini menjadi isyarat kuat bahwa
terdapat hubungan budaya yang cukup kuat antara kerajaan Majapahit dengan
Dinasti Ming di China. Candi ini memiliki keterkaitan sangat erat dengan
legenda rakyat Danar Wulan dan Menak Jinggo.
Candi yang berlokasi di dusun Grinting, desa karang jeruk
kecamatan Jatirejo ini belum banyak diketahui umum. Informasi yang diperoleh
tentang wujud bangunan candi juga belum banyak, selain sisa pondasi bangunan
yang ditemukan oleh pembuat batu bata.
Bangunan ini dulunya berupa penemuan umpak-umpak besar yang diduga sisa
dari sebuah bangunan pendapa agung, tempat raja Majapahit menemui tamu-tamu
kerajaan, letaknya juga di dekat Kolam Segaran. Sekarang lokasi ini sudah
dipugar oleh pihak Kodam V Brawijaya menjadi bangunan pendapa yang nyaman untuk
dikunjungi. Dibelakang bangunan ini terdapat batu miring, yang konon menjadi
tempat Mahapatih Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa. Selain itu juga
terdapat kompleks makam dan petilasan Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit
yang ramai dikunjungi oleh peziarah dan “konon” kalangan pejabat yang ingin
terkabul maksudnya terutama pada malam Jum’at.
Adalah bangunan monumental berupa kolam
besar dari batu bata, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 800 x 500 meter
persegi. Kedalaman Kolam Segaran sekitar 3 meter dengan tebal dinding 1,6
meter. Nama Segaran berasal dari bahasa Jawa 'segara' yang berarti 'laut',
mungkin masyarakat setempat mengibaratkan kolam besar ini sebagai miniatur
laut. Diduga fungsi kolam ini adalah sebagai reservoir air bagi pemukiman
penduduk kerajaan Majapahit yang padat, atau sebagai tempat latihan renang bagi
prajurit kerajaan. Dugaan lain adalah sebagai tempat hiburan menjamu tamu-tamu
kerajaan, dimana mereka dijamu di tepi kolam dengan perlengkapan makan dari
emas dan perak, lalu sesuai acara perjamuan peralatan nan mahal ini dilemparkan
ke tengah-tengah kolam untuk menunjukkan betapa makmurnya kerajaan
Majapahit.
Situs berupa sisa-sisa bangunan rumah ini memiliki keunikan tersendiri lantaran ditemukannya hamparan lantai kuno berupa paving blok berbentuk segi enam dari bahan tanah liat bakar yang dibuat halus, berukuran 34 x 29 x 6.5 cm. Pada situs kita bisa melihat sisa lantai, sisa dinding dan beberapa perabot dari bahan tembikar seperti gentong dan pot tanah liat. Diduga dulu situs yang terletak 500 m selatan Pendopo Agung ini merupakan bagian dari kompleks bangunan kerajaan, atau mungkin pula bangunan milik bangsawan kerajaan Majapahit.
12.Alun-Alun Watu Umpak
13. Makam Putri Campa
14. Makam Troloyo
15. Siti Inggil
16.Candi Jolotundo
Candi ini terletak di lereng Gunung Bekal, salah satu
puncak dari pegunungan Penanggungan. Tepatnya di Desa Seloliman Kecamatan
Trawas. Bangunannya terbuat dari batu kali dengan ukuran panjang 16,85 m lebar
13,52 m tinggi 5,20 m. Menurut data sejarah candi ini menunjukkan angka tahun
977 M, dan di sebelah kiri dinding belakang candi terdapat tulisan GEMPENG,
disamping itu di sebelah sudut tenggara juga ada tulisannya.
17. Reco Lanang
17. Reco Lanang
Arca
yang terbuat dari batu andesip dengan ukuran tinggi 5,7 meter ini merupakan
gambaran dari perwujudan salah satu Dhani Budha yang disebut Aksobnya yang
menguasai arah mata angin sebelah timur. Agama Budha Mahayana mengenal adanya
beberapa bentuk kebudhaan yaitu Dhyani Bodhisatwa dan manusi Budhi. Dhyani
Budha digambarkan dalam perwujudan Budha yang selalu bertafakur dan berada di
langit. Dengan kekuatannya ia memancarkan seorang manusi Budha yang bertugas
mengajarkan dharma di dunia. Tugas manusi budha berakhir setelah wafat dan
kembali ke Nirwana. Demi kelangsungan ajaran dharma, Dhyani Budha memancarkan
dirinya lagi ke dunia yaitu ke Dhyani Boddhisatwa. Setiap jaman mempunyai
rangkaian Dhyani Budha, Boddhisatwa dan Manusi Budha. Di wilayah Trowulan
sekarang sudah banyak pemahat-pemahat yang membuat arca seperti peninggalan
kerajaan Majapahit,sehingga tidak sedikit orang dari luar daerah bahkan luar
negeri yang memesan patung-patung seperti patung peninggalan dari kerajaan
Majapahit.
18.Api Abadi Bekucuk
18.Api Abadi Bekucuk
Menurut legenda yang beredar pada
sebagian masyarakat, konon Api ajaib bekucuk sudah terkenal pada masa kerajaan
Majapahit Api yang mengagumkan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk
berbagai kepentingan Api Bekucuk pernah menjadi perhatian masyarakat pada tahun
1933 yaitu bermunculan sumber api kecil di pekarangan dan rumah penduduk
sehingga Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengadakan peninjauan atau penelitian
dan sejak itu Api Bekucuk banyak menarik perhatian masyarakat. Lokasi terletak
di dusun Bekucuk desa tempuran kecamatan Sooko yang berjarak sekitar 3 Km dari Kota
Mojokertoyang dapat ditempuh dengan kondisi jalan yang cukup baik.
19.Museum Purbakala Trowulan
19.Museum Purbakala Trowulan
Terletak di wilayah Dusun Trowulan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Museum Purbakala Trowulan dapat dicapai menggunakan semua moda transportasi baik melalui jalan raya Trowulan atau jalan kecamatan tepat di seberang Kolam Segaran. Museum Purbakala Trowulan didirikan oleh Kanjeng Adipati Ario Kromojoyo Adinegoro bersama Ir. Henry Maclaine Pont pada tahun 1942 dengan tujuan untuk menampung artefak hasil penelitian arkeologi di sekitar Trowulan.
END❤❤❤












Komentar
Posting Komentar